Sekilas tenaga dalam pada jurus Nampon

Tenaga dalam

Sumber Informasi  : Dadang Komarudin

 Nampon Sejati, Cililin Padalarang

 8 Oktober 2000

  

Nampon adalah nama salah seorang tokoh silat yang dilahirkan di Jawa Barat yang terletak di Desa Marga Jaya Padalarang, dulunya disebut Daerah Ciharashas.

Adapun jurus-jurusnya dinamakan Jurus Nampon, karena beliau adalah yang menciptakan jurus nampon tersebut, jurus ini terdiri dari lima jurus yang sering dikenal Jurus Lima.  Jurus lima itu yang isinya terdiri dari sepuluh jurus, diantaranya :

 

1 Jurus pertama yang disebut jurus kahiji

2 Jeblag

2 Teundeut

3 Ketiga

4 Tomplok

4 Lewat

4 Potong

4 Colok (Asup)

5 Disebut Jurus Lima

 

Adapun yang disebut Jurus Pertama yaitu jurus getek untuk memukul juga untuk menahan pukulan dari lawan.

Jeblag gunanya untuk merebahkan lawan, Tendeut gunanya untuk menjatuhkan lawan.  Jurus ketiga gunanya untuk melawan serangan lawan bila orang yang menyerangnya lebih dari dua orang, itu bisa dihindarkan dari depan, belakang, samping.

Gileus gunanya untuk menggiles lawan bersentuhan atau rapat.

Tompok gunanya untuk menjatuhkan yang datang dari samping.

Lewat gunanya untuk menahan serangan lawan yang datangnya dari depan.

Potong gunanya untuk mematahkan lawan bila lawan itu bersentuhan atau rapat. 

Colok gunanya untuk mematikan lawan bila menghadapi lawan yang tangguh. 

Jurus Lima menyempurnakan dari keempat jurus tersebut atau dari kesembilan jurus, dan sekaligus untuk membuka serangan lawan yang sulit untuk dibuka.  Inilah merupakan penjelansan dari jurus-jurus Nampon

Sedangkan Tenaga Dalam itu biasa disebut orang dengan Tenaga Inti, juga disebut Tenaga Puser. Ini semua ada dalam diri manusia hanya tersembunyi, dengan menggunakan sumber energi yang berada disekitar dua atau tiga cm dibawah pusar, biasa orang mengenal dengan Solar Plexus, merupakan pusat syaraf Simpatetik yang tidak diperintahkan oleh otak (Fikiran), yang dikendalikan langsung oleh Solar Plexus.

Ketika kita menghirup udara ada zat tertentu disebut zat hidup, yang langsung menuju solar plexus.  Secara medis kegunaan dan keberadan zatitu belum diketahui, meski begitu zat ini didapat dari seseorang itu sesuai dengan keperluan masing-masing.

Ketika kita hendak mengeluarkan nafas, sepertiga dari zat hidup ini didistribusikan keluar bersama-sama sampah pernafasan lainnya.  Sepertiga yang lain disebarkan keseluruh tubuh sebagai kekuatan hingga kita bisa melakukan sesuatu misalnya kita bisa memecahkan suatu benda.  Sisanya dari nafas tadi dipakai cadangan (Tenaga Dalam).  Jadi selama kita bernafas tenaga dalam itu tidak habis-habis, tenaga inilah yang sepertiga cadangan yang diolah sebagai Bela Diri.

Dunia Persilatan di Purwakarta

SIMPAN SEJARAH TERSENDIRI

 Pada dasarnya seni silat yang berakar di tanah air ini dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu silat kembang dan silat buah.  Silat kembang yang dimaksud dengan pencak silat ini lebih menekankan pada seni yang diikuti oleh irama musik gendang, goong dan trompet.  Biasanya digunakan sebagai pertunjukan.  Sedangkan silat buah lebih menekankan pada gerakan (jurus-jurus) untuk menghindar dan menyerang terhadap reaksi lawan.

Kedua silat ini terbagi dalam beberapa aliran, yang ditiap-tiap daerah mempunyai karakter jurus masing-masing, biasanya yang bermain jurus-jurus silat kembang dapat pula bermain silat buah, karena silat kembang merupakan manipestasi dari silat buah.  Sedangkan seseorang yang bermain silat buah, belum tentu bisa bermain silat kembang.   Karena disamping kemampuan jurus juga harus sesuai dengan irama yang mengiringinya.

Purwakarta merupakan salah satu kata yang menyimpang sejarah silat tersendiri, dan banyak pula tokoh-tokoh yang mashur dari generasi ke generasi salah satu tokoh persilatan di daerah ini yaitu : Drs. Endang Muhidin yang lebih akrab disebut Abah Ending, putra asli sunda kelahiran Garut 8 Desember 1957 telah banyak memberikan andil dalam percaturan silat di kabupaten Purwakarta.

Dalam dunia persilatan Abah Ending menjabat selaku ketua PPSI  yang membawakan seluruh sekolah di kabupaten Purwakarta juga menjabat sebagai ketua komwil PPSSMI (persatuan Pencak Silat Satria Muda Indonesia) juga sebagai guru besar perguruan MUSTIKA (Memelihara Urat Syaraf Tenaga Inti Karena Allah) perguruan ini samping mendalami silat buah juga mengajarkan silat kembang kelebihan Abah Ending disamping menguasai seluruh jurus (Ameng) yang tangguh dari berbagai aliran silat, bila ada salah satu muridnya yang cidera, patah tulang misalnya, hanya mengusap di bagian patahnya langsung sembuh.  Bahkan menurut Yayat, salah seorang muridnya : "Abah bisa kalau mengobati jarak jauh, jika seseorang cidera dilapangan langsung sembuh".

Abah Ending sejak kecilnya sudah belajar silat dari orang tuanya, dan ketika menginjak dewasa terus belajar berbagai aliran silat karena banyaknya pengalaman dari berbagai guru, maka ilmu silat yang diperolehnya itu dicoba dikembangkan di perguruan MUSTIKA diputuskan 4 tingkatan pelajaran :

 Tingkat          I          Bendung, Jeblag, Tendet, Tarik, Opatliwat,

                                 Tomplok, Giles, Colok, Potong, dan Ngalemesken.

                      II         Harkat dan jurus dari 10 jurus

                      III        Jurus Harkatan

                      VI         Kalang dan isi

Jurus-jurus yang dikembangkan yakni jurus Cimande, Cikalong, Cikaret Syahbandar dan Nampon.

 

PPS-SMI

Perguruan pencak silt satria muda yang berpusat di Jakarta, kini sedang mengembangkan peranannya di seluruh Indonesia pada pembinaan PPS - SMI, angkatan ke III di Lembang menghasilkan para pelatih silat SMI dari kabupaten Purwakarta yang lulus mengikuti  pendidikan tersebut yaitu : Drs Ending Muhidin (SMU Pasundan), Dahlan S (SMP I), Heri (SMPN 2), Wahyu (SMPN 3), Drs. Opan S (SMPN 8), Heri M (SMPN 7), Drs. Toni S (STMN), Dedi D (SMP Pasundan), Bambang W (SMPN 5), Ma'mun Gojali (SMPN Margasari), Dadang, Lilis.

 

Tenaga dalam menurut Abah Ending

Hampir diseluruh padepokan silat pada akhirnya kemampuan silat seseorang itu harus diimbangi oleh suatu kekuatan jurus yang lain dari perguruan yang lain, biasanya kalau hanya menggunakan jurus yang dirahasiakan umum, akan cepat diketahui jawaban-jawaban jurus tersebut maka dengan keadaaan tersebut harus diadakan latihan-latihan tenaga dalam, cara yang dilakukan untuk meraih untuk mendapatkan tenaga dalam itu bermacam-macam.

 

Nampon Pencak Silat Klasik Islam

Untuk meraih tenaga dalam itu ada yang menggunakan diantaranya :

Tetapi caranya tetap bagi orang Islam jangan keluar dari jalur Islam atau dari agama Islam, kalau menyimpang dari ajaran Islam nantinya akan musyrik dan bid'ah.  Sedangkan tenaga dalam itu akan didapatkan dengan jurus-jurus tertentu, dengan komposisi latihan yang teratur, tenaga dalam  itu disebut kracht itu tidak perlu menggunakan bacaan-bacaan atau dengan bertapa, karena dikhawatirkan timbulnya tenaga dalam itu karena bacaan, hal ini dilarang oleh ajaran Islam, yang dibolehkan itu hanya sebatas berdo'a saja kepada Yang Maha Kuasa.  Sebelum dan sesudah berlatih, InsyaAlloh keiinginan apapun akan tercapai kalau maksud baik.

Setiap mahluk hidup itu ada krachtnya diantaranya :

Manusia, tumbuh-tumbuhan, dari mahluk hidup sampai benda mati itu ada krachtnya.  Apalagi manusia yang mempunyai kracht yang kuat bila kracht manusia itu sudah terbuka maka manusia akan bisa memukul, melempar, dan membekukan musuh atau lawan dari jarak jauh, juga dapat digunakan untuk pengobatan, karena elektron-elektron positip akan mengalir pada si penderita pada saat berada di titik fokus, antara inti bumi, tenaga inti manusia dan tenaga inti alam, kekuatan inipun tidak semua orang dapat melakukannya, akhirnya kita kembali kepada dzat Yang Maha Kuasa, hanya dengan izin oleh si penderita dapat sembuh, karena itu kita dalam segala hal kembali kepadaNya, adapun yang dapat mengalihkan kekuatan tenaga dalam yang lain sebenarnya mudah saja bagi yang sudah terbuka krachtnya, dengan menahan napas dan di tahan atau di terima oleh orang yang menahan napas atau yang mengeluarkan napas diterima oleh orang yang memasukkan kracht itu, sehingga akan mempunyai muatan positif yang sama hanya kwalitasnya yang tidak sama, bagaimana pengolahannya.

Manusia pada hakekatnya bisa bela diri dan juga membutuhkan bela diri, untuk menangkal atau menjaga dari serangan-serangan yang membahayakan baik dari : a. Manusia, b. Binatang, c. Mahluk lainnya.

Selanjutnya disusun menjadi jurus-jurus tertentu mudah dihapal dan mudah dipelajari, seingga muncul diberbagai pelosok dunia terutama di Indonesia khususnya, misalnya : di Jawa Barat diawali dengan  munculnya Tokoh Pesilat Embah Khair, lahir di Km Kanurang, Mande, Cikalong Kulon, Cianjur.  Yang hidup sekitar pertengahan abad 18 dan yang selanjutnya pindah ke kampung Cogreg, Bogor dan dari tempat inilah mulai mengembangkan Ameng (jurus) dan dari sini murid-muridnya menyebar keberbagai pelosok tanah air, Amengnya disebut "Kimande", karena diambil dari nama tempat Mande, dan tempat latihannya disekitar Kali Mande.

Selanjutnya RH Ibrahim, lahir di Cikalong, Cianjur adalah keturunan RA. Wirattanudatar II, mulai berguru kepada Ateng Alimudin dan H. Ma'ruf (Jakarta) dia adalah orang yang sangat cekatan dan pandai mempelajari atau mendalami ilmu-ilmu silat yang kemudian belajar pada Bang Madi, untuk kecepatan pukulannya belajar kepada Bang Kari, keduanya berasal dari Pagaruyung, Sumatera, dan jurus RH. Ibrahim ini dinamakan "Cikalong" murid-muridnya diantaranya : Nampon (Jabar), Timpung (Jatim), Mandar (Sulsel), Agan Brata, RH. Tarmidzi, Naib Cikalong, H. Tamin, dan banyak lagi yang menyebar dipelosok-pelosok Jawa.

Dan di Purwakarta, menyimpan sejarahnya tersendiri tentang silat, berawal dari kehadiran Muhammad Kosim, di kmp. Sabandar, Cianjur, yang aslinya berasal dari Pagarruyung, Sumatera.  Di kampungnya mengajarkan silat yang sangat ampuh sehingga ia di hormati oleh masyarakat Cianjur pada saat itu, profesinya disamping mengajarkan silat juga berburu harimau dari keahliannya itu, ketika pindah ke Sindang Kasih Purwakarta bersama dengan gurunya yaitu Ajengan Cirata, nama Kosim ini menjadi pawang harimau Kanjeng Dalem Purwakarta

Setelah isterinya meninggal di Purwakarta, nama Kosim pindah ke Wanayasa (23 km dari Purwakarta) yang kini menjadi salah satu kecamatan di kabupaten Purwakarta, beliau menikah dengan kakaknya Raden Sasmita (Ama Agen) yang di Wanayasa ini mengembangkan silatnya dengan nama silat Syah Bandar, nama ini diambil dari tempat asalnya di Cianjur, Sabandar, kemudian beliau wafat di makamkan di Wanayasa.  Muridnya diantaranya Weklin (Kwekling), Ama Opang, Ama Anam.

Abah Ending dalam aliran Syahbandar banyak belajar dari kuwu R.  Tisna, Subang, salah seorang murid utamanya dari Ama Anam, sedangkan dari Ameng Cikaret yang kini dikuasainya merupakan gabungan Cimande dengan Cikalong, karena pada waktu itu ajengan Cikaret Sukabumi, belajar Ameng Cimande, dan selanjutnya disebut Ameng Cikaret.

(Saduran dari Hikmah tahun 1996).